Dear X

konten 1
konten 2
konten 3
GEOGRAFI (3) cita-cita (1) (1)

Kamis, 27 Agustus 2015

Buku Petunjuk Pendidikan Politik Sejak Dini ( H. Mahrub Djunaidi )



Tulisan ini saya salin ulang karena saya anti main politik. Hahaha. Entahlah suatu hari akan menjilat ludah sendiri atau enggak. Hidup memang dinamis, bukan?

Kadang saat sudah berumur 23 tahun, harus kembali mengingat-ingat perasaan sewaktu muda dulu, bagaimana pemikiran-pemikiran di benak anak muda, apalagi berbau politik. Kalo bisa dibilang saya dulu sangat apatis. Sangat. Justru tulisan dari H. Mahrub Djunaidi dari buku “Humor Jurnalistik” terbitan 1986 dibawah ini sangat menohok saya (jadi saya....??? WT*!). Karena tulisannya cukup panjang, bacanya dibagi 6 aja ya, waktunya—bisa bagi waktu kan Anda? :p


“Buku Petunjuk Pendidikan Politik Sejak Dini”

Apabila seorang anak sudah duduk di kelas 5 Sekolah Dasar, paling lambat di kelas 6, ajaklah dia ke Kebun Binatang. Begitu menginjak pintu gerbang segera bisikkan di kupingya, “Kamu tidak mau dijebloskan ke dalam kandang seperti makhluk-makhluk itu bukan? Nah, jadilah kamu manusia yang paham politik. Manusia yang tidak berpolitik itu namanya binatang, dan binatang yang berpolitik itu namanya manusia!”

                Mungkin pernyataan ini akan membuatnya heran dan bertanya-tanya. Tak jadi apa. Memang begitulah cikal bakal pertumbuhan pengetahuan, filsafat dan pribadi, diawali dengan pelbagai rupa rasa keheranan dan rasa ingin tahu.

                Agar supaya memudahkan, paling utama berhentilah barang setengah jam di depan kandang monyet. Monyet jenis apa saja pun, jadilah. “Kamu lihat monyet yang paling besar dan paling beringas itu? Dialah kepala, pemimpin monyet-monyet lain di kandang itu. Dia menjadi kepala dan menjadi pemimpin itu, bisa disebabkan beberapa faktor. Bisa karena dia paling tua, bisa juga karena paling pintar. Tapi yang jelas karena dia paling besar, paling kuat, paling perkasa, paling mampu membanting monyet-monyet lainnya yang tidak menurut. Alasan takutlah yang membuatnya bisa menjadi pemimpin. Monyet tidak pernah kenal sistem pemilihan seperti halnya bangsa manusia. Ini kedunguan warisan.”
***
Dari situ mampirlah ke Kantor Pajak. Suruh anak itu berdiri tegak bagaikan batang kerambil, pejamkan mata dan pusatkan perhatian. Bisikkan perlahan tapi pasti, ke lubang kupingnya, “Inilah kantor yang minta-minta ongkos dari hasil keringatmu. Bahkan kamu buang air besar pun ada tarifnya. Dari uang setoranmu yang terkumpul itulah, yang bisa membikin Pemerintah dengan segala peralatannya bernapas, melangkah, bahkan mengaturmu. Jika misalnya jumlah yang terkumpul itu kurang membuatnya leluasa, selebihnya diambil dari jual batu-batuan dan cairan yang berasal dari dala bumimu, tidak terkecuali dari lautmu. Jadi, kamu itu penting dan menentukan. Jangan merasa jadi kecoak! Kamu tidak mau setor? Pemerintah akan jadi gembel dan duduk bersimpuh di perempatan jalan. Akibatnya bisa panjang juga. Ada memang orang bangsa bule di negeri nun jauh di sana, namanya Henry David Thoreau. Entah karena jengkel atau oleh sebab lainnya, orang bule ini berseteru supaya orang-orang jangan bayar pajak. ‘Apa sih pemerintah itu?’ katanya. Kalau ada orang yang setahun sekali muncul di ambang pintu rumahmu dan minta duit pajak, itulah yang namanya Pemerintah. Dia berseteru supaya dilakukan civil disobedience, pembangkangan sosial. Ini hanya contoh lho, jangan kamu tiru. Yang penting kamu mesti tahu bahwa penduduk suatu negeri itu punya harga, bukan seperti kecoak, karena dia memberi nafkah kepada Pemerintah, supaya Pemerintah bisa berdiri di atas dengkulnya, tidak terkulai. Paham kamu?”

***

Sesudah itu tuntunlah si anak melihat-lihat Kantor Pemeritah Daerah. Boleh pilih: Walikota bisa, Bupati bisa, Gubernur pun bisa. Beritahu dia, jadi pejabat Kepala Daerah itu tidak bisa semau-maunya. Ada batas waktu sekian tahun. Lagipula buat apa lama-lama? Penduduk saja bisa bosan. Mereka itu tidak bisa jatuh begitu saja dari langit, melainkan lewat pencalonan yang namanya Dewan Perwakilan Rakyat Tingkat Daerah.

“Asal kamu tahu saja, yang namanya Menteri Dalam Negeri memang bisa saja mengangkat orang yang kalah dalam pencalonan bahkan di luar calon sama sekali. Tak usah kamu banyak tahun dulu, karena memang begitu aturannya. Lalu, yang banyak kursi seperti gedung bioskop itu apa? Oh, itu namanya Dewan Perwakilan Rakyat, tempat para anggotanya bersidang. Mereka itu memiliki kamu, kalau kamu nanti sudah cukup umur untuk ikut Pemilihan Umum. Itu hakmu dan bukan kewajiban. Teori membedakan mana hak dan mana kewajiban ini penting, sebab banyak orang yang sudah tua bangka suka keblinger.”

Jika si anak bertanya, apa semuanya itu dipilih, cukup bilang “tidak”. Dan jika dia terheran-heran, jawab saja, “Nanti kamu akan tahu sendiri.” Bisa juga terjadi, dia bertanya apa sebab antara Pemerintah dengan Dewan berada dalam satu atap, katakan, “Itu Cuma soal teknis, supaya orang Pemerintah tidak capek mondar-mandir. Lagipula, Dewan Perwakilan itu menurut Undang-Undang yang berlaku, merupakan ‘perangkat’ Pemerintah Daerah.” Cukup penjelasannya sampai situ, kalau panjang-panjang bisa bikin bingung.

Tidak ada salahnya bersiap-siap menghadapi pertanyaan yang menyangkut soal Pemilihan Umum atau siapa saja pesertanya. Berilah jawaban yang sesederhana mungkin, yang mudah mereka tangkap. Bilang saja bahwa Pemilihan umum itu boleh memilih tanda gambar peserta yang mana saja. Ketentuan ini berlaku juga buat pegawai negeri. Anak cerdik mungkin akan mengajukan soal mendadak. “Mengapa organisasi peseta cuma tiga, bukankah konstitusi sebagai induk seluruh undang-undang memperbolehkan kemerdekaan berserikat dan berorganisasi?” (Perlu diketahui tulisan ini dibuat tahun 1981). Menghindarlah dari jawaban, sebijak mungkin, asal jangan kentara menggelapkan sesuatu. Anak-anak sekarang, berkat gizi dan pengamatan lingkungan dengan mata kepala sendiri, jangan sekali-kali dikecoh. Dia akan segera menertawakan kita, seakan-akan kita ini seorang pelawak sirkus yang sudah dia pikir dan hilang dari peredaran.

***

Serentak hari panas dan matahari sudah menggantung diatas ubun-ubun, ajaklah dia pulang dulu dan beristirahat. Antara “mendidik” dan “memaksa” terbentang jarak yang amat lebarnya, ingat itu baik-baik. Kalau—ini kalau, lho—kebetulan lewat Kantor Kelurahan, boleh juga sambil lalu diterangkan ala kadarnya ihwal apa itu Lurah. Bilang kepadanya, bahwa dalam garis besarnya ada dua macam Lurah atau Kepala Desa. “Ada yang ditunjuk begitu saja seperti kita menunjuk jenis permen yang berkenan, dan ada yang lewat pemilihan oleh penduduk. Yang disebut belakangan ini biasanya terjadi di desa. Ada yang lewat pemilihan murni dan ada pula yang lewat pilihan yang ‘dipersiapkan’. Syukur kalau dia tidak memerlukan penjelasan lebih lanjut, apa maksudnya ‘dipersiapkan’. Jika nyinyirnya sudah tidak tertahankan, jawab saja bahwa penjelasannya lain kali, berhubung perut sudah lapar. Perut lapar membuat pikiran jadi buntu.”

Taruhlah ada waktu luang dan cuaca sesuai benar dengan ramalan Direktorat Meteorologi dan Geofisika—persis tidak meleset walaupun cuma setetes air—maka tuntunlah anak itu ke gedung museum, andaikata di kota domisili ada museum dalam makna lumayan. Sekali lagi, itu andaikata! Sebab, pada jaman sekarang ini, pikiran orang sudah terkuras habis untuk membangun hotel, rumah bola sodok, lapangan golf, tempat mandi uap dan panti pijit, serta diskotik, sehingga nyaris tak ada sisa buat membangun museum. Karena itu jika di kota domisili ada gedung museum, tidak ada aibnya bertepuk tangan sambil melompat-lompat.

Begitu kaki menginjak gerbang, katakanlah kepadanya bahwa dia bukanlah makhluk yang mem-brojol begitu saja dari lubang batu, melainkan merupakan mata rantai dari rentetan sejarah panjang ke belakang dan jauh terentang ke depan entah diaman batasnya. Setolol-tolol orang adalah mereka yang tak tahu apa itu sejarah, dan sehina-hina orang adalah mereka yang memalsukan sejarah, mengerikitnya seperti tabiat busuk makhluk tikus. Perbuatan macam itu selain akan jadi bahan tertawaan, juga sia-sia saja. Sang sejarah sendiri yang perkasa, akan menjatuhkan batu besar ke kepala hingga luluh lantak jadi bubur.

“Kamu punya buku pelajaran sejarah wajib di sekolah, bukan? Ketahuilah olehmu, setiap yang namanya ilmu itu—tidak terkecuali sejarah—harus siap dan rela diuji serta dipertanyakan benar atau tidaknya. Jangan kamu telan begitu saja seperti sebutir kacang. Ragu-ragu itu suatu langkah yang mesti ditempuh, jika kita mau sampai ke keyakinan yang tak tergoncangkan. Barangkali gurumu akan tampak gusar jika kau kelewat sering mengajukan pertanyaan yang kurang biasa—percayalah—gusarnya itu Cuma gusar formal belaka, sebagaimana pantasnya ditunjukkan oleh seorang pegawai negeri. Belum tentu sampai di hati. Bisa jadi dengan diam-diam, dia membenarkanmu, mudah-mudahan. Hati bercabang, rohani retak, sikap ganda; sedang menjadi musim, seperti halnya musim rambutan. Pendapat hati dan pendapat perut punya gardu masing-masing.”

***

Sekali tancap, dari museum langsung mampir ke rumah gadai. Berbeda dengan museum, rumah gadai terdapat di setiap kota, bahkan satu kota sering punya lebih dari rumah gadai. Mengapa tidak memperlihatkan bank? Rumah gadai lebih mudah dijangkau, bisa dilihat dengan mata telanjang, tidak terlalu banyak menyimpan rahasia yang sukar ditembus. Tapi yang penting, rumah gadai itulah pencerminan sejati lapisan terbesar penduduk kita, yaitu rakyat kecil, yang pada suatu pagi—begitu bangun tidur—tahulah dia bahwa tidak ada uang sepeser pun di kantong.

Pergi ke bank? Peraturan bank yang begitu ruwet akan menambang pening kepalanya dua kali lipat. Maka pergilah dia ke rumah gadai membawa barang jaminan yang melekat di badan. Bisa berupa kain batik, atau liontin peninggalan nenek moyangnya. Berjuaya penduduk setia berhubungan dengan rumah gadai, bukannya bank, karena itu arahkanlah pandangannya ke bawah, bukan ke langit. Jangan ke mobil sedan, melainkan ke bus metromini yang para penumpangnya senantiasa berdesak-desakan sambil ber-“olahraga leher”, terbungkuk-bungkuk karena terpaksa.

“Bapakmu punya mobil yang dibeli dari hasil gaji dan keringatnya sendiri? Betul? Tapi yang seperti Bapakmu itu bisa dihitung dengan jari kaki. Menegertikah kamu apa yang disebut ‘sistem’? Mungkin masih samar-samar, tak apa. Nah, jika sistem ekonomi salah, maka buntutnya bisa panjang. Misalnya, yang mestinya bukan pedagang malah berdagang. Yang mestinya pedagang malah tidak bisa dagang. Yang mestinya sekolah malahan main di comberan. Semua itu akibat sistem yang salah.

Pernah mendengar tentang hak asasi? Tentu pernah, walau mungkin hanya samar-samar. Itu penting kamu ingat-ingat mulai sekarang, karena hak asasi itu merupakan harta bendamu yang paling berharga. Jauh lebih berharga daripada rumahmu, sepedamu, sepatu roda dan bola tendangmu, digabung menjadi satu. Sekarang barangkali belum begitu terasa arti pentingnya, tapi kalau sudah dewasa kelak, dia akan merupakan suatu taruhan. Bisa membuatmu jadi seperti seekor cacing.

Supaya lebih jelas, dengarkan baik-baik. Kamu punya hak asasi untuk mengeluarkan pendapat, punya hak asasi berkumpul dengan sarjana orang yang sepaham, punya hak asasi apakah kamu mau berjongkok, atau menungging, sepanjang tidak membawa malapetaka bagi tetangga.

Mulai sekarang harus kautanamkan ke kepalamu bahwa hak asasi itu sama pentingnya dengan sepiring nasi. Bisakah kamu enak tidur tanpa melahap nasi sepiring pun? Tak seorang pun, sekali lagi tak seorang pun, yang diperbolehkan merampas hak itu dari dirimu. Begitu hakmu itu terampas, kamu bukan lagi manusia, melainkan semacam segumpal asap.”

***

“Besar kemungkinan, bapakmu di rumah suka menyebut-nyebut istilah yang namanya ‘warisan’. Jika yang dimaksud ‘warisan’ itu beruapa benda, entah rumah, entah truk, entah kebun kelapa sawit, atau mungkin berupa utang yang mestinya dibayar oleh bapakmu, itu bukan urusan. Itu memang ada hubungannya dengan hakmu, hak ibumu, hak kakak serta adikmu. Tidak ada orang yang perlu mencampuri, karena aturan-aturannya sudah tersedia. Tapi kalau bapakmu—siapatahu—menyebut-nyebut tentang ‘warisan nilai-nilai’, maka ini soalnya sedikit lain.

Seperti halnya uang logam ratusan, nilai itu punya dua sisi yang berbeda satu sama lain. Ada nilai yang bagus, tapi ada juga nilai yang jelek. Sejak sekarang kamu mesti melatih diri untuk memisah-misahkan, mana nilai baik dan mana nilai yang buruk, culas, serakah, serigala, ular kobra, maupun kucing garong. Bilang kepada dirimu sendiri serta juga kepada bapakmu, bahwa kamu cuma punya bakat mewarisi nilai-nilai baik dan alergi terhadap nilai-nilai kaleng gombreng. Jika bapakmu itu pikirannya waras, dia akan bersenang hati serta merasa bangga, dan langsung mencium jidatmu. 

Bapakmu berlangganan koran? Aneka macam koran? Itu bagus. Masa bodohlah apa koran itu dibelinya atas pilihan sendiri atau langganan wajib lewat kantornya, pokoknya koran. Biasakanlah banyak membaca, termasuk membaca surat kabar ini. Kamu harus berusaha agar kesenanganmu membaca koran sama dengan kesenanganmu makan rujak. Tapi, membaca surat kabar pun jangan asal membaca. Langkah apapun yan serampangan, tidak bagus. Pakailah daya menimbangmu semaksimal mungkin. Jangan sala suap dan asal telan, nanti ketulangan.”
Kompas, 10 Maret 1981

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

merci beaucoup~ :) your opinion's so valuable for me



Powered by mp3skull.com