Dear X

konten 1
konten 2
konten 3
GEOGRAFI (3) cita-cita (1) (1)

Kamis, 28 November 2013

Membandingkan Konsep 2 Acara menyangkut Indonesia +galau dikit

Akhirnya my room cukup rapi, dan mudah saja gak sampai 2 jam rapiin. :D
Ngomong-ngomong, hari ini gw cukup merasa excited. Meskipun semangat, tapi kalo inget tentang 20.10 gw jadi sedih..haha. Udahlah, gw harus belajar buat ikhlas, biar dia juga tenang J hubungan yang cukup terputus setelah wangsit 2x mimpi tentang dia… gw udah pernah crita kan tentang dia, masjid putih, dan wasiatnya?
Berkat dia, gw belajar banyak.. gw belajar berubah..  seandainya gw gini, gw ga bakal terlambat buat memperingatkan dia..dan ga bakal kehilangan…  Hal terbaik yang bisa gw lakuin saat ini adalah menjadi rahmatan lil alamin, biar kejadiannya ga terulang lagi….  *Dan tiba-tiba gw benci lagunya Avril Lavigne “When you were gone”. Gw lebih suka lagunya “Someone Watching Over Me” Hillary Duff.
---------------------------------------------------------------------------------------
WHY COMPLICATE LIFE?
Missing somebody? …………….CALL
Wanna meet up?    ……………….INVITE
Wanna be understood? ………. EXPLAIN
Have questions?   …………………ASK
Don’t like something? …………SAY IT
Like something?  ………………..STATE IT
Want something?  ……………..ASK FOR IT
Love someone?     ……………….TELL IT
WE JUST HAVE ONE LIFE.
KEEP IT SIMPLE.
---------------------------------------------------------------------------------------
Btw bukan itu tema kita hari ini.

sebenernya gw mau bikin part-part di blog gw ini. kayak semacam bikin tab per sub tema biar ga kecampur-campur. Tapi sekarang masih belum sempet otak-atik, jadilah gw masih gaptek. huhuhu

Well, dimana tidak ada kuliah hidup gw jadi cukup boring. Dan karena sebuah misi *ceelah gaya bener* gue jalan-jalan! Enggak deng, ikutan seminar tentang "Pengelolaan Limbah Kelapa Sawit" di hotel Century kemarin; dan hari ini di Audit Kom Fisip UI. Sayang banget minggu kemarin gw gajadi ke IPB karena kurang fit *padahal menarik bangettt meskipun bayar--tentang bikin film gitu deh..hehe*. Ini juga baru aja kena AC dikit di Audit sekitar 2 jam malah jadi anget kayaknya -_- lo kenapa sih led? *mendadak jadi inget kata-kata Ka Friska. Ah, kangen banget!! Kapan ya ketemu lagi sama kaka itu..hehe, karismatik banget, dan tipe orang yang keren bisa ngelola emosinya. Kenang2an Tibetnya oke banget. Sayangnya udah di Papua. Smoga ga kena malaria disana. Amiiin.*

Langsung. Gw mau ngebandingin secara konsep kedua seminar ini. Gw cerita soal yang di Audit FISIP dulu kali ya, mumpung baru aja dan lagi fresh!

1. Kuliah umum European Development Days 2013; 13:00-16:00.
Seperti perkiraan kuliah umum dimulai setengah jam setelah taken waktu pertama, artinya 13:30. Dan selesai menambah waktu setengah jam (dan tambahan lagi setengah jam lagi karena dimulai 1/2 jam dari waktu awal) --> 17:00 WIB.
. Kuliah umum diawali pemutaran video. Secara teknis, ternyata ada masalah sedikit pas mau mulai, manusiawi, sih, soalnya dulu pas jadi panitia juga pernah kayak gitu..hehe. Tapi ada yang kurang di videonya dia gak ada translate (setidaknya versi inggris), karena ada omongan bahasa prancisnya juga didebatnya selain bahasa inggris *dikit2 ngerti kosakatanya sih, tapi yaa ga menyeluruh aja jadinya*
   Setelah video berlanjut ke pidato ringkasan dari apa yang akan dijelaskan pada panel diskusi.
   Secara inti gw ekspetasi gw mungkin agak berlebih dalam acara hari ini *gw dateng karena ada pihak Bappenas yang katanya juga dateng, artinya cukup menarik juga acaranya* dan kasak-kusuk soal MDGs ingin memantau ada apa pada periode era hingga tahun target tersebut. 
   MDGs Indonesia akan menjadi piramid muda (untuk usia produktif pada masa tersebut). Menelaah dari kutipan kata-kata dari dosen FE dari temen gw *yang gue sayangnya lupa namanya depannya K, dan baru aja acara FE tadi*. Katanya kalo Indonesia gak sampai 7% pertumbuhan ekonominya pada hingga masa tersebut, maka Indonesia gak bakal bisa lebih dari itu (karena usia produktif dimana penduduknya tinggi). Berbeda dengan kata-kata orang besar pas beberapa waktu lalu, dia yakin banget klo Indonesia bakal bisa lebih unggul dari negara-negara lain karena SDM yang menguntungkan ini. 
    Lalu menelaah dari acara di FISIP ini gw melihat apa yang coba pemerintah lakukan adalah memperbaiki pendidikan. Kecenderungan dari bulan-bulan ini terutama tahun 2013 (dan setahun setelah gw maba), mulai banyak pengembangan mental dari ESQ, Leadership. Dan kini 2013 Leadership marak dimana-mana (kalau dari sisi saya, melihat di kalangan mahasiswa itu sendiri meskipun beberapa pun terbuka buat umum). 

     Pada kesempatan XL Future Leadership di Gramedia Matraman (kalo gak salah Oktober), salah seorang Indonesia yang duduk di kanan gw (kami dibatasi lorong tengah buat berjalan), dia memberi opini tentang acara-acara semacam ini, intinya buat apa, lalala *sama kayak asumsi gw kok semua jadi leader, ntar pengikutnya siapa?* (dari awal gw peratiin sih penanya ini orangnya cukup concern dan terlihat akhirnya nanya pas akhir acara). Salah satu kata-kata CEO XL saat itu yang gw inget (gw rangkum ya jadi kalimat gak langsung.hehe): Indonesia saat ini sedang di era haus pemimpin [tanda kutip pemimpin bervisi ke depan,, dan baik].. salah satu kenyataannya ada di XL sendiri, sekedar cerita aja di XL (kalo gak salah) ada 4 direksi, dari ada 1 belanda disana (entah kenapa kalo dari jumlah Indonesia menang banyak, tapi dari gaya CEO gw berasumsi bahwa pemimpin dari Indonesia di XL sendiri mungkin bertipe orang yang kurang kurang berani berpendapat dan mengkritisi atau membuat keputusan? Maksud gw tentang mempertahankan visi, buat bangsanya, dimana yang kita semua ketahui bahwa telekomunikasi itu memberi andil sangat penting di era masa kini. Kalo komunikasi aja "dijajah" dari segi adu intelektual dan kepercayaan diri di pimpinan, ya wassalam aja). Seperti yang kita lihat sekarang semua aspek swastanisasi--mending kalo swastanisasi bangsa sendiri tapi bangsa lain kok yang punya? Nah loh. #silahkan cek daftar pemegang swasta dari pihak asing di berbagai sektor di Indonesia. Bahkan perusahan lokal indonesia juga sudah banyak menjadi milik Group asing. Mari kita lihat "stempel" Danone merajalela :p  contoh lainnya akan gue posting di kesempatan lain nanti *kalo yang ini gw mengumpulkan pendapat dari banyak orang sekalian nyambi kerjaan. hehe*

     Namun opini pribadi gw sendiri pendidikan bukan sekedar "pendidikan" di sekolah saja. Semua saling memiliki keterkaitan satu sama lain jika kita sudah berbicara pendidikan untuk 1 individu. (**)gw bahas abis gw bandingin acara ini ya.

    Kemitraan Uni Eropa (UE) dan Indonesia ini berlaku pada 4 prioritas: pendidikan, hak asasi manusia, perdagangan dan investasi. Kasus kuliah umum hari ini cukup mengherankan untuk pihak Indonesia sendiri dalam segi pendelegasian perwakilan RI. Dikatakan kuliah umum yang diselenggarakan Delegasi Uni Eropa ini :
Acara ini diselenggarakan khusus untuk memperingati European Development Days 2013 yang berfokus pada agenda pembangunan pasca-2015 dalam menentukan capaian dan prioritas yang dibutuhkan dalam mencapai pendidikan berkualitas untuk semua. (informasi lebih lanjut mengenai EDD 2013, silahkan mengunjungi http://eudevdays.eu/ ) Akan hadir membuka acara dubes uni eropa utk indonesia dll.. VIP : -dubes uni eropa utk indonesia, brunei dan ASEAN (H.E. Olof skoog) - Dr. David Harding penasihat senior bag. Pendidikan (senior Education Advisor, ACDP) -->kelihatannya pihak netral
-Gordon Manuain, wakil utusan khusu presiden RI utk hub. Global dan regional MDGS (Deputy Envoy of The President RI for global & regional Affairs on the Millenium Development Goals/ KKUP-RI MDGS.---> INDONESIA
- colin crooks, wakil kepala delegasi uni eropa utk indonesia -->EU Deputy Head of Delegation
- perwakilan dari kementrian pendidikan RI dan Bappenas RI --> selama acara tidak tampak opini terutama dari kementerian pendidikan RI
Dari kampus, hanya kadep HI (Evi Fitriyani

Presnetasi dari RI malah diwakili dari pihak perdagangan. Untuk dari RI yang saya herankan kenapa tidak ada presentasi perbandingan target yang di"invasi" dari Eropa pada agenda Kementerian Pendidikan secara detil, setidaknya kasihtau-lah harapan Kementerian Pendidikan. Tidak hanya terima-terima aja.
(misalnya karena UE kasih dana ke APBD untuk pendidikan yakni scholarship, dan juga tadi dikatakan bahwa akan dilakukan training SDM yang bekerja, tapi karena konteks seminar adalah "pendidikan", dimana detail keinginan kementerian dari hubungan kerjasama ini? *kan kuliah umum ini jadi ajang publikasi juga kan?
Malah kesannya kayak UE ke Indonesia. Indonesia dapet bantuan dana dari segi pendidikan, UE dapat bantuan dari segi perdagangan (secara tersirat) dengan dibentuknya Peraturan Teknis Ekspor Indonesia: Indonesia akan mengekspor produk-produk dengan nilai tambah lebih tinggi.*Artinya jika eksportir lokal tidak dapat memenuhi standar lebih tinggi yang ditetapkan, ekspor dibatalkan. Secara lebih jauh dapat DIRAMALKAN ekspor ke Eropa bisa jadi berkurang kuantitasnya dengan adanya Peraturan Teknis ini. Disisi Indonesia sendiri dalam meningkatkan sebuah produk, seringkali terkendala dengan kebijakan kenaikan harga barang karena biaya transportasi akibat kenaikan BBM. Pembatasan merebaknya ekspor ke Eropa secara tersirat-kah ini?
*dari buku singkat Kerjasama Pembangunan UE Indonesia yang baru saja dibagikan pra-acara

kemudian presentasi dari perwakilan perdagangan (sayangnya entah kenapa dari gesture dan duduk agak ke belakang dari diskusi panel 4 orang di depan ---saya jadi berasumsi agak tidak percaya diri kah? semoga anggapan saya salah. Karena orang Eropa layaknya kita juga manusia. Meskipun mereka menganggap bangsa Asia lebih rendah, bukan berarti kita membuktikan anggapan mereka benar. Lalu pikiran gw melayang ke acara-acara leadership yang merebak belakangan di Indonesia). Saya berharap dikali lain presentasi perwakilan RI membuat saya ingin terus mendengarkan. 

Saya cukup suka dengan presentasi bule yang disebelah kanan panel diskusi. hehe *kayaknya Mr.Collin Crooks (apa Dr.David ya?). Presentasinya asik dan tidak boring.
Dan beliau lah yang menjawab pertanyaan mahasiswa Jerman (dari tadi gw iseng peratiin ini anak..haha soalnya kayaknya dia pengen gabung ke kita, tapi akhirnya pindah ke belakang). Mahasiwa ini tanya tentang kerjasama ini dari segi sokongan dana, lalu gimana dengan implementasinya sendiri di sekolah-sekolah.. training guru apa juga disorot UE? 
Lalu untuk pertanyaan orang Indonesia ada juga tanya kenapa yang diconcern UE itu baca, padahal banyak masalah lain dari pendidikan yang perlu disoroti. (baca disini dalam artian buta huruf, padahal dari segi persentase dari data ada yang lebih tinggi lagi)

Kejutan dari jawaban bule yang presentasinya bagus itu. Olahan katanya menarik dengan tetap beragumen membaca itu sangat penting. Dengan kesukaan membaca, bisa mengeja. Kalo dipikir-pikir ada benernya juga bule ini ngomong. (gw jadi inget surat Al-Alaq ayat pertama yang dikasih ke nabi Muhammad pas di gua Hira). Intinya kalo ngeja udah bener, kalo udah bisa baca, kalo udah SUKA dan CINTA sama baca, orang bakal pinter dan cerdas dengan sendirinya. Opini saya, lagi-lagi namanya pendidikan balik lagi ke motivasi individunya sendiri. Dengan adanya kecintaan dengan baca, maka dia bakal mencari sendiri dan gak perlu disuapin informasi. Dia bakal cari kebenaran ilmu itu sendiri. Dari suka dengan baca juga dia bakal belajar "otaknya"/pikirannya buat mencerna maksud bacaan, analisis, membuat kesimpulan sendiri seusai bacanya. Cepatnya orang berkembang yaitu dengan kecintaannya dengan membaca *ini pribadi gw ngalamin sendiri, terutama pas SD kelas 6 baru gw sadar* Keingintauan terasah dengan ia membaca dari buku satu ke buku lainnya. Ini benar-benar menarik. Dari sebuah akar akan melahirkan batang dan daun-daun lain serta bunganya adalah ketika ia sukses (asumsikan individu itu adalah sebuah pohon yang berkembang). Itulah sebabnya kebisaan mengeja dan membaca itu sangat penting.

Kembali lagi ke opini saya, bahwa membaca dari "buku" adalah penting. Buku adalah satu media pembelajaran, dimana jika pemilahan buku yang baik akan memberikan dampak yang baik untuk si pembaca/yang mau belajar *kesannya gimanaaa gitu be-la-jar.* Kasus milenium ini buku-buku untuk sekolah sayangnya dari sisi kualitas ........................ sedihnya bahasanya berat terutama SMA, jadi kadang kalo anak-anak yang gak seneng baca juga bisa down dulu. Dari sisi penerbitan, juga kadang ada yang karena ingin cepat untung pembuatan buku kurang bervisi (dikejar deadline yang gak manusiawi, , untuk hasil?)
--------------------------------------------------
(**)
Balik lagi ke buku itu sebagai "Media" sebagai bentuk komunikasi transfer ilmu.
Sekarang ada buku. Ada ebook. Ada internet. ada Ipad. de el el el. Era teknologi bercampur pendidikan. Pendidikan bukan sekedar pendidikan sekolah. Mari kita katakan sekolah adalah "media".
Dalam membentuk individu transfer ilmu melalui komunikasi. Bisa dari ngobrol sama orang, dengerin, baca.. input ke individu. Kalo output individu ialah pandangannya/cara mikirnya, tulisan-tulisannya, omongan-omongannya.
Jadi "media" dan "komunikasi" sangat berperan dari individu.
Kalo Kementerian Pendidikan menyadari hal ini, dan menekankan upaya mengambil alih sebagian otoritas dalam "media" dan "komunikasi" --yang mungkin dari pengawasan keduanya, maka akan lebih mudah menghasilkan SDM berkualitas.

Saya jabarkan sebagai contoh
Anak muda suka hiburan. Kebosanan di sekolah (apalagi dengan kompetensi berubah-ubah mulu, semakin padatnya materi, hafal melulu) diluapkan dengan mengikuti gadget, fashion, game, TV, nonton bioskop, film, , dll (kalo di kota-kota ya. Jangan lupa bahwa dunia termasuk Indonesia sudah dihadapkan pada kecenderungan persentase meningkat dari desa ke kota. Dalam artian sifat suatu lingkup administratif menjadi sifat kota akan membludak).
Jadi hiburan ini menjadi substitusi pendidikan yang ada di sekolah. Kok bisa?
-nilai-nilai pada film/game/gadget (baik dari segi fashion, pola pikir dari film,segala yang ada di film termasuk artis de el el) jadi panutan generasi muda. Kita gak cuma membicarakan pendidikan dari segi dana dan beasiswa. 
Lembaga sensor media perlu menjalankan perannya. Lembaga sensor jangan cuma mensensor film dari kata-kata juga, tapi amanat yang ada di media tersebut.
Kalo perlu porsi separuh headline media massa mengarah menjadi mindset mendidik. Bukannya melulu ngomongin hal kegagalan.
Sangat menarik kalo koran nasional Indonesia mulai mengarah pada pemberitaan dengan orientasi PETA.
Selalu ada pemberitaan dari seluruh daerah Indonesia (mungkin dibatasi saja di lingkup Provinsi--).
Sebenernya ini inovasi pribadi juga. Gimana kalo menkominfo bikin Peta berspasial yang kasih pemberitaan di tiap ranah publik dengan masing-masing tema (pendidikan, sosekobudpol, dll). Kalo menkominfo bikin ini bisa jadi lebih terpantau kan?
Tapi ini jelas megaproyek karena mungkin butuh dana sangat besar. Tapi kalo menggandeng perguruan tinggi dan kerjasama dengan media massa nasional dan lokal jelas ini bisa teratasi.
Jadi dulunya : 
"Pemberitaan Indonesia Holistik". Semestinya infonya pun diakses secara terbatas, karena namanya bangsa Indonesia masa bisa diakses seenak jidat ke luar negeri sih? Mau dijajah lagi kah info kayak gitu gampang didapetin? hehe.

Btw, balik lagi ke pendidikan. Selain itu banyak ditemui kasus pendidik tidak bermoral--bisa disuap, pelecehan murid, kekerasan, hingga mengajar asal-asalan di kelas (bisa juga cerita ga bener di kelas)--yang bisa memotivasi turun ke yang dididik. Makanya pelatihan ke guru gak cuma dari segi materi pendidikan yang diajarkan itu penting juga.
*capek ya ngomongin pendidikan, tapi emang banyak kaitannya sih. hehe :p

Lagi-lagi dari kesemua-semua-muanya buat MEMBENTENGI agar jadi manusia yang baik adalah KECINTAAN PADA TANAH AIR. 
Orang-orang lebih melihat esensi formalnya dari baca melulu dari Pancasila dan UUD 1945 tiap kali upacara.. tapi kadang dari persepsi pribadi ternyata kurang. Hal ini didorong generasi tua maupun usia produktif yang kurang kecintaan sama tanah air, dan ngejek, "Namanya juga Indonesia".
Perlukah diberlakukan hukum untuk kewajiban kecintaan pada tanah air Indonesia? Agar semua orang tidak memberikan judge negatif yang mempengaruhi generasi muda.
---------------------------------------------------------


2. Seminar Bersama Hasil Pengelolaan Limbah Kelapa Sawit .
@ Hotel Century 27 September 2013 di Kridangga Ballroom. (diundangan 08:00-16:00 WIB). Kerjasama Jepang-Indonesia.


Entah kenapa acara ini kok gue gak liat yang bikin notulensinya siapa ya? ehmmmmmmm
Dan gue kecewa berat gak ada pers sama sekali. Masa katanya sosialisasi tapi gak keliatan ada pers?? Macamana pula ini. 
Di undangan katanya ngundang berbagai mahasiswa yang dari macam-macam universitas. Tapi pas dateng bangkunya kosongnya banyak. Dan gue rada kecewa aja, masa emang sih acara mulai dari jam 9, tapi yang orang Indonesianya baru dateng lewat 10 menit. Aduuuuh malu gue jadi orang Indonesia kalo gini caranya. *meskipun gue sering telat dulu dan lagi belajar ga telat lagi,* Mana sama orang Jepang lagi yang terkenal on time.
Kalo Pak SBY yang katanya di buku "PASTI BISA" karya Dino Patijalal itu, beliau orangnya lebih on time. gw jadi inget kata kaka FKM, prinsipnya temennya "lebih baik menunggu daripada bikin nunggu."

JADI udah di hotel bagus-bagus, tapi gak ada pers, banyak ajudan pemerintah dateng, mahasiswa kayaknya cuma kita ber4 (gue berdua sama temen gw, dan 2 orang samping gw dari univ swasta deket Bandara Halim Perdana Kusuma. Mereka juga nonton aja tuh), otomatis udah gw ramalkan gimana kritikan dan pertanyaan yang diajukan nanti. 
Hwaaah! Bener aja, opini dan pendapat paling oke cuma 1 orang, menggetarkan hati Bapak BLH Kecamatan .. 

Dan secara isi, orang jepang penyampainnya sederhana, efisien/lugas, to the point (pake translate ke Inggris dari Jepang. Jepang juga dari Indonesia di translate-in). 

Sebenernya gw agak kecewa sama BLH Indonesia, kenapa gak kasih tau sistemnya sama kayak di Jepang atau ga? *gue juga sih gak tanya #plak. 
Lalu untuk regulasi Jepang itu diperbarui , yang di Indonesia kenapa baru di perbarui sekarang-sekarang?

Dan gw ngeliat orang-orang dari lingkugan hidup ini lebih suka KUANTITATIF dalam artian mengukur. 
Oleh BLH yang di Tangerang tadi yang beropini dan berkomentar, bahwa sosialisasi ke masyarakatnya juga susah *sampe gw ngedengernya tau itu orang ngomong udah kayak mau nangis*.

Dari hasil kerjasama yang waktu itu untuk struktur pengawasan media dan masyarakat tidak tersirat secara jelas. Hanya berupa paragraf, tapi untuk struktur penyampaian masyarkat ke BLH, dan media ke BLH belum ada. 
Seharusnya kemarin gw tanya nih gimana mekanisme Jepang berkaitan ini. Dan regulasi mereka. 
 HUh begoooo #plak!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

merci beaucoup~ :) your opinion's so valuable for me



Powered by mp3skull.com